About Me

header ads

Ketua Komisi II DPRD Lampung Yakin Pelaku Pelemparan Saat Aksi Ulah Provokator


BANDARLAMPUNG –Dua Anggota DPRD Provinsi Lampung Wahrul Fauzi (Fraksi Nasdem) dan Ade Utami Ibnu (Fraksi PKS) menjadi korban anarkisme dalam unjuk rasa terkait Undang-Undang (UU) Cipta Kerja, di halaman Gedung DPRD Provinsi Lampung, Bandarlampung, Rabu (7/10/2020) sore.

Mereka dilempar batu dan botol air minum oleh masa pendemo saat akan menemui masa pendemo yang tergabung dalam Aliansi Lampung Memanggil, sekitar Pukul 16.10 WIB.

Hal tersebut di benarkan oleh ketua komisi II Wahrul Fauzi Silalahi bahwa benar dirinya terkena lemparan batu saat akan turun untuk menemui masa aksi, akan tetapi dirinya sangat yakin bahwa yang melakukan pelemparan batu tersebut bukan mahasiswa akan tetapi salah satu dari pihak yang ingin memprovokasi mahasiswa untuk bertindak anarkis.

“Ya benar saya terkena lemparan batu, tetapi saya sangat yakin bahwa yang melakukan pelempan tersebut bukan mahasiswa, tetapi oknum provokator” kata dia,  Kamis (8/10/2020).

Sebelum terjadi anarkisme, Ketua DPRD Provinsi Lampung Mingrum Gumay dan Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto, serta Perwakilan Komisi dan Fraksi, termasuk Wahrul Fauzi serta Ade Utami Ibnu, telah memfasilitasi dan menerima aspirasi dari Aliansi Lampung Memanggil terkait Undang-Undang (UU) Cipta Kerja, di Ruang Rapat Komisi, Kantor DPRD Provinsi Lampung, pada pukul 14.05 WIB.

Pada saat menerima aspirasi, Ketua DPRD Provinsi Lampung Mingrum Gumay menyampaikan bahwa Gedung DPRD merupakan kantor wakil rakyat. Siapapun boleh menyampaikan aspirasinya di sini.

“Jadi perbedaan pendapat diantara kita merupakan hal demokrasi. Hanya saja memaksakan pendapat untuk diikuti satu pihak yang mengatas nama apapun, itu tidak dibenarkan. Karena itu menindas, dan kalau sudah menindas itu melanggar hak asasi,” ujar Mingrum Gumay.

Terkait UU Cipta Kerja, Ketua Mingrum Gumay, menuturkan bahwa pihaknya menyikapi secara bijak. Dan prinsipnya bahwa keberpihakan kepada kelompok kerja Iya, tapi keseimbangan antara pekerja dan para pengusaha juga harus dicari.

“Kita saling membutuhkan. Yang paling penting kita duduk bareng, secara bijak dan arif. kalau ada persoalan jangan dipersoalkan, tapi mencari solusinya,” ujarnya.

Namun, Atas pernyatan tersebut, perwakilan mahasiswa tidak terima dan keluar dari Ruang Rapat dan melanjutkan orasi.

Karena ada provokasi dari pihak lain, masa menjadi anarkis dan melempar petugas dan memecahkan kaca Gedung DPRD Provinsi Lampung. (*)